Media sosial telah menjadi katalis penyebaran tren diet ekstrem yang berbahaya bagi remaja. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube dipenuhi konten “diet challenge” yang menjanjikan penurunan berat badan instan—mulai dari diet air putih 72 jam, makan hanya buah selama seminggu, hingga menghindari karbohidrat total. Sayangnya, remaja yang sedang mencari identitas dan tekanan untuk tampil “sempurna” mudah terjebak dalam tren berbahaya ini.
Dampak kesehatan dari diet ekstrem sangat serius. Tubuh remaja sedang dalam masa pertumbuhan kritis yang membutuhkan asupan gizi seimbang. Pembatasan kalori ekstrem dapat menyebabkan kekurangan zat besi, anemia, gangguan menstruasi pada remaja putri, penurunan massa otot, dan perlambatan metabolisme. Lebih mengkhawatirkan lagi, kebiasaan ini berpotensi memicu gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia yang membutuhkan penanganan medis jangka panjang.
Psikologis remaja juga rentan terdampak. Algoritma media sosial sering memperkuat citra tubuh negatif dengan menampilkan konten “before-after” yang tidak realistis. Remaja mulai membandingkan diri dengan standar kecantikan digital yang diedit, memicu kecemasan tubuh (body anxiety) dan harga diri rendah. Banyak yang tidak menyadari bahwa konten diet viral sering dibuat oleh konten kreator tanpa latar belakang gizi, bahkan ada yang dibayar oleh brand suplemen tertentu tanpa transparansi.
Orang tua dan pendidik perlu berperan aktif. Edukasi literasi digital menjadi kunci—ajarkan remaja untuk kritis terhadap konten kesehatan di media sosial. Dorong komunikasi terbuka tentang citra tubuh dan nilai kesehatan di atas penampilan. Sekolah dapat menggandeng ahli gizi untuk memberikan panduan nutrisi yang benar. Penting diingat: penurunan berat badan sehat maksimal 0,5–1 kg per minggu dengan kombinasi pola makan seimbang dan aktivitas fisik teratur.
Kesehatan sejati bukan tentang mengikuti tren viral, melainkan membangun hubungan positif dengan tubuh dan makanan. Remaja perlu belajar bahwa setiap tubuh unik dan layak dicintai tanpa harus memenuhi standar media sosial. Untuk memahami lebih dalam tentang pendekatan sehat terhadap gaya hidup, Anda dapat mengunjungi https://www.knightool.com/faqs.htm lsebagai referensi tambahan mengenai pola hidup seimbang yang berkelanjutan.
Mencegah remaja terjebak diet ekstrem membutuhkan kolaborasi: keluarga yang suportif, pendidikan gizi yang tepat, serta kesadaran bahwa kesehatan tidak diukur dari angka di timbangan, melainkan dari energi, kebahagiaan, dan fungsi tubuh yang optimal. Lindungi generasi muda dari bahaya tren instan—karena tubuh mereka layak dirawat dengan kasih, bukan dipaksa menuruti standar digital yang semu.