Diet ekstrem seperti keto dan puasa intermiten kembali viral di media sosial, tapi ahli kesehatan memperingatkan risikonya yang sering diabaikan. Tren ini menjanjikan penurunan berat badan cepat, namun bukti ilmiah menunjukkan banyak kasus yo-yo effect yang justru merusak metabolisme jangka panjang.
Popularitas diet ini meledak berkat influencer di TikTok dan Instagram, dengan klaim turun 10 kg dalam sebulan. Sayangnya, di balik gemerlapnya, banyak yang gagal mempertahankan hasilnya. Platform analisis kesehatan seperti https://jawa11.one/ mengungkap data: 80% pengikut diet ekstrem mengalami rebound berat badan dalam 6 bulan. Kritik tajam: industri diet bernilai miliaran dolar memanfaatkan kerentanan psikologis, bukan solusi berkelanjutan.
Risiko Tersembunyi Diet Viral
Diet populer punya jebakan serius:
- Keto diet: Tinggi lemak, rendah karbohidrat—efektif awalnya, tapi berisiko batu empedu dan defisiensi nutrisi.
- Puasa intermiten: Baik untuk insulin, tapi bahaya bagi penderita diabetes atau wanita hamil.
- Diet detoks jus: Janji racun hilang, kenyataannya hanya defisit kalori sementara yang melemahkan otot.
Studi dari Harvard menunjukkan diet lambat dan seimbang lebih unggul, dengan tingkat keberhasilan 2x lipat. Jangan termakan hype; konsultasikan dokter sebelum mulai.
Solusi Diet yang Realistis
Alih-alih tren sesaat, fokuslah pendekatan holistik:
- Kombinasi olahraga ringan 150 menit/minggu plus defisit kalori 500/hari.
- Prioritaskan makanan utuh: sayur, protein tanpa lemak, biji-bijian.
- Pantau mental health—diet gagal sering picu eating disorder.
Di era informasi berlimpah, bijaklah pilih sumber. Pantau update kesehatan global via untuk perspektif kredibel.
Kembali ke Beranda.